Sabtu malam, awal Februari 2012
Telepon masuk dari nomor yang tak
kukenal. Dari nomor 08765****68, nomor
yang tak bernama. Biasanya dari
orang-orang yang salah pencet nomor.
Atau dari teman baru FB, manjam atau situs-situs yang lain. Entahlah.
Akhirnya kuangkat juga telepon ini.
“Hallo ... ini ARIK?” suara pria pelan. Terdengar ragu-ragu.
“Ya. Maaf, siapa ini?” tanyaku sambil
mendekatkan handphone lebih dekat ke
telingaku. Suaranya benar-benar lirih. Terdengar seperti tak percaya diri. Atau dia sedang ketakutan. Atau sinyal XL
sedang tak bagus.
“Harya”
Pikiranku berputar-putar. Mencoba mengingat-ingat, siapa Harya yang dia
maksud. Sepertinya aku tak pernah punya
teman bernama Harya. Tak ada teman
sekolahku yang bernama Harya.
Teman-teman gaul juga tak ada. Entahlah,
mungkin aku sudah lupa.
“Sorry, apa kita pernah ketemuan?”
“Belum mas”
“Hmm ... Oke. Salam kenal aja ya”
“Thanks, Mas”
“Kamu stay dimana?”
“Aku di Bratang, mas”
“Nggak jauh dari tempatku”
“Iya mas”
“Kapan-kapan ketemuan ya”
“Iya mas ...”








