Selasa, 15 Mei 2012

Lelaki Terindah (1)


 Sabtu malam, awal Februari 2012

Telepon masuk dari nomor yang tak kukenal.  Dari nomor 08765****68, nomor yang tak bernama.  Biasanya dari orang-orang yang salah pencet nomor.  Atau dari teman baru FB, manjam atau situs-situs yang lain.  Entahlah.  Akhirnya kuangkat juga telepon ini.

“Hallo ... ini ARIK?” suara pria pelan.  Terdengar ragu-ragu.

“Ya. Maaf, siapa ini?” tanyaku sambil mendekatkan handphone lebih dekat  ke telingaku.  Suaranya benar-benar lirih.  Terdengar seperti tak percaya diri.  Atau dia sedang ketakutan. Atau sinyal XL sedang tak bagus.

“Harya”

Pikiranku berputar-putar.  Mencoba mengingat-ingat, siapa Harya yang dia maksud.  Sepertinya aku tak pernah punya teman bernama Harya.  Tak ada teman sekolahku yang bernama Harya.  Teman-teman gaul juga tak ada.  Entahlah, mungkin aku sudah lupa.

“Sorry,  apa kita pernah ketemuan?”

“Belum  mas”

“Hmm ... Oke.  Salam kenal aja ya”

“Thanks, Mas”

“Kamu stay dimana?”

“Aku di Bratang, mas”

“Nggak jauh dari tempatku”

“Iya mas”

“Kapan-kapan ketemuan ya”

“Iya mas ...”


Sabtu, 12 Mei 2012

Jarwo's Secret



Sudah kusangka, dia pasti kembali ke dalam pelukanku.


Masih inget si Jarwo, kan?  Seperti yang kuceritakan dulu, dia ini memang tergolong lelaki yang jaim.  Tak banyak omong, tak banyak cerita dan tak banyak komentar.  Saat itu kami memang bercinta dengan cara yang tak pernah kami mengerti.  Begitu bernafsunya kami menuntaskan hasrat nafsu kelelakian. Saat itu kami hanya saling menuntaskan dahaga.  Walaupun tak ada sedikitpun komunikasi yang terjalin diantara kami, aku mendapatkan kepuasan batin darinya.  Yup, I think he is a good fucker.

“ML lagi, yuk ...”

Itu sms yang benar-benar tak kuduga sama sekali.  Sudah sebulan lebih kami tak saling berkomunikasi.  Akun FB-nya pun sudah ku remove dari daftar pertemanan.  Kupikir kami memang tak ‘match’.  Dan kalau sudah berpikir bahwa tak ada kecocokan diantara kami, kenapa harus dipaksakan?   Dalam berteman, aku tak suka ada paksaan. 

“Ayuk. Jam berapa kamu bisanya?”

“Jam 10 an, gimana?”

“OK. Kutunggu di depan BP Hotel”

“OK”


Jam sebelas siang, aku baru bisa datang ke hotel BP.  Jarwo sudah terlihat di depan tempat parkiran.  Mukanya terlihat muram.  Ada sedikit kemarahan disana.  Hahaha ... kian marah, wajahmu kian terlihat menggairahkan, honey!


Senin, 07 Mei 2012

Satpam Palsu


Sudah hampir setengah jam aku berputar-putar di daerah Siwalan Kerto. Aku sedang mencari alamat teman baru yang kukenal lewat Facebook.  Aku memang belum pernah menjelajah ke daerah ini.  Selama ini aku hanya melewati depan jalannya saja, nggak pernah masuk hingga ke dalam.  Ternyata  banyak sekali jalan-jalan (gang) kecil yang bercabang-cabang.  Ampun dah!

“Mas kamu bisa jalan ke toko Alfa di depan jalan raya?”

“Nggak bisa mas.  Aku orang baru, nggak pernah keluar”

Setan alas Kambing Congek!  Aku dongkol setengah mampus.  Dia ini lelaki dewasa dan katanya satpam di salah satu bank, masak nggak pernah keluar sama sekali.  Sungguh katrok bin ndeso.  Kayak perawan kampung aja!  Kalau tidak karena penasaran dengan sosoknya, nggak bakal kuteruskan pencarianku ini.

Aku mencoba mencari alamatnya lagi.  Kutanyakan alamat itu pada orang lewat, tukang becak, hingga ibu-ibu hamil yang sedang belanjapun kutanya.  Tapi mereka tak bisa  menunjukkan arah alamat yang kutuju.  Aku hanya berputar-2 di daerah itu-itu saja.  Hadeeeeh  ... meledak sudah amarahku.

Emosiku kian memuncak kala dia, mengirim sms.

“Mas nggak jadi ketemuan aja”


Kamis, 03 Mei 2012

Being Dewi Perssik


Lama-lama gue ini merasa jadi Dewi Perssik.

Bukan terkenal karena kualitas  suara, bukan karena kecantikan, bukan pula karena punya ‘boops’ yang gede.  Tapi ini terkait dengan perseteruan-perseteruan yang sedang gue alami.  Harus kuakui, beberapa teman sedang ada masalah dengan gue.  Masalahnya sungguh sepele.  Teramat sepele malah!  Tapi masalah sepele begini ternyata sanggup mengusik hati sanubariku yang terdalam.

Bussyet, masih punya hati lo Rik?

Guys, you know, secara seks gue memang penjahat kelamin.  Tapi secara hati, kalian bisa membuktikan bahwa hati gue ini aslinya baik.  Ibarat pepatah, gue ini seperti harimau berhati kura-kura.  Dari luarnya saja yang terlihat menyeramkan, tapi hati gue ini aslinya baik.  Sumpah!

*

Okelah, gue jabarin saja ya permasalahan yang sedang menimpa gue itu:

Selasa, 01 Mei 2012

BORING!


Tadi  malam saya terbangun.  Dan tak bisa tidur lagi.  Ada sejumlah galau yang sedang memenuhi  kepalaku.  Sejumlah permasalahan sedang menggantung dalam kepalaku. Saya ingin pergi saja dan menjauh dari keramaian. Saya sudah bosan dengan apa yang sehari-hari saya lihat.  Saya ingin melihat yang lain.

Saya ingin berlalu dan pergi tanpa meninggalkan jejak. 

Bukan, saya bukan ingin mati. Saya hanya ingin melakukan perjalanan jarak jauh.  Dimana saya bisa melihat sisi-sisi kehidupan yang lain.  Saya ingin melihat perilaku manusia dari cara pandang yang berbeda.  Saya ingin melihat watak dan perilaku manusia dari tempat yang berbeda.  Saya juga ingin tahu, dimana rasa damai bisa kutemukan.

Bisa jadi tempat itu adalah sebuah pantai, dimana saya bisa merasakan dinginnya angin laut yang semilir di sekujur tubuh.  Atau mungkin tempat itu ada di gunung, dimana saya bisa menghirup udara segar yang dihembuskan pohon-pohon yang mash perawan.  Bisa jadi tempat itu adalah tempat pelacuran, dimana setiap kata yang keluar adalah kata-kata rayuan yang terdengar indah di telinga.

Sayangnya, semua angan itu hanya mimpi.

Seumur hidup saya tak akan pernah bisa melihatnya.  Tuntutan pekerjaan tak akan membiarkan saya melakukan perjalanan itu.  Saya sadar diri, cuma pekerjaan membosankan itu yang sanggup membuatku hidup.  Saya sadar, saya menjadi makluk yang bebal ketika bergaul dengan orang-orang bodoh.  Sebenarnya mereka tak bodoh, mereka hanya berpura-pura bodoh. Dan saya tahu kenapa mereka merasa lebih baik menjadi bodoh saja. 

Guys, saya ingin keluar dari zona nyaman ini.

Unlucky, I can not do it.
I don’t have any bravery to do it!
It’s a pity, huh!

Minggu, 29 April 2012

Saved by Cibi


Surabaya sedang gerah saat ini.  BMKG meramalkan suhu kota akan berada antara 36 hingga 37 derajat celsius.  Udara yang panas ini jelas sangat mempengaruhi mood seseorang.  Begitu juga dengan moodku saat ini.  Lebih gampang merasa sensitif, sepertinya.  Aku juga sedang malas memenuhi janji kencan.  Pengennya ngadem di satu tempat yang dingin.  Minimal di dalam kamarku sendiri ajalah.

“Mas lagi apa? Bisa ketemuan sekarang?”

Aha ... ini sms dari Dion, 21 tahun, mahasiswa di salah satu PTS di Surabaya.   Kami memang sudah berteman lewat facebook lama.  Tempat tinggalnya tak jauh dari rumahku.  Butuh waktu 10 menit untuk mencapai rumahnya.  Tapi memang belum ada kesempatan untuk menemuinya.  Aku juga sedang malas menemui  para ababil –abege labil – seperti dia.  Aku sedang ingin bertemu dengan lelaki-lelaki  matang saja.  Nggak ribet!

“Plis ... sekali aja ketemuan, mas, Mumpung rumah sepi”

Aku jadi penasaran juga.  Kuperiksa satu persatu foto-foto di albumnya.  He’s not so bad.  Tanda-tanda alay juga tak nampak di pose-pose fotonya.  Pertahananku mulai goyah.  Setelah timbang sana timbang sini, akhirnya bisikan setan juga yang menang.   Kupikir, tak ada salah menemuinya.  Dengan satu syarat, tak bakal ada ‘status’ yang tercipta selain status berteman.  Maaf, aku sedang malas berstatus in relationship!

“OK. Aku ke tempatmu jam 8”

“Beneran mas? SMS kalau udah berangkat ya”

“OK”

*

Jam 07.45 aku berangkat menuju rumahnya.  Nggak butuh perjuangan panjang untuk mencapai rumahnya.  Gang menuju rumahnya  juga tidak serumit seperti kampung-kampung di tengah kota sana.  Sesampai di depan rumahnya, aku telpon Dion.

Telponku tak diangkat!


Jumat, 27 April 2012

My Birthday


Semalam aku merenung sendirian.

Besok adalah hari ulang tahunku.  Itu berarti sudah kulewatkan 41 tahun hidupku di dunia ini.  Sudah banyak peristiwa yang telah kulalui.  Susah senang, pahit manis, duka dan bahagia sudah kurasakan.  Dan aku merasa harus mensyukuri semua pemberian Allah kepadaku.

Kalian pasti mencibir.

Hidup berbalut kemiskinan  aja sok-sokan merasakan bahagia.  Kalian bener.  Aku memang tak punya mobil mewah.  Rumahku juga masih rumah cicilan.  Gajikupun pas-pasan untuk mencukupi kehidupanku sehari-hari.  Tak pernah ada seorangpun yang mencapku sebagai orang kaya.

Itu kenyataan.

Tapi kalau kalian bilang bahwa untuk merasakan bahagia itu harus kaya dulu, kalian salah.  Salah besar!  Karena bahagia itu kita sendiri yang mendefinisikan.  Kalau segala sesuatu ditakar berdasarkan materi,  tak akan pernah ada habisnya. Tak akan kalian dapatkan sedikitpun rasa bahagia itu.

Jadi aku benar-benar mensyukuri sekecil apapun yang telah Allah anugerahkan kepadaku.

Senin, 23 April 2012

KLIMAX




“Kamu biasa ML dimana?”

“Di PB aja mas, murah. Tapi ada tempat yang deket”

“Dimana?”

“Di belakang Gubeng. Paling cuma setor 20 ribu aja”

“OK. Kamu kenal baik sama pemiliknya, kan?”

“Udah langganan, mas”

“Ya udah kesana aja”

Kami berdua segera menuju ke tempat yang diceritakan si Iyan.  Sepanjang perjalanan, Iyan berlaku begitu mesra.  Dadanya menempel erat di punggungku.  Tangannya melingkar di perutku, tanpa rasa sungkan sama sekali.  Yah, namanya juga ‘kucing’.  Ini pasti caranya untuk memikat tamu.

Butuh waktu hanya 10 menit saja untuk mencapai tempat  tujuan.  Tempatnya masuk ke dalam kampung yang sempit dengan jarak antar rumah yang saling berhimpitan.  Terlihat beberapa orang kampung yang masih cangkrukan di depan gang.

“Masuk aja mas ...” kata Iyan saat kami sudah sampai ke depan pintu kamarnya.  Kupikir, ini memang kamar kost si Iyam.  Bukan tempat sewa seperti yang dibilangnya tadi.  Kamarnya memang kecil, mungkin hanya berukuran 3X2,5 meter saja.  Tapi cukuplah kalau hanya untuk tempat esek-esek.

Aku segera selonjor di atas kasur yang diletakkannya di lantai.

Iyan langsung membuka baju, celana dan celana dalamnya.  He’s totally naked now.  OMG ... I cant breath.  He’s really sexy.  Gurat-gurat ototnya terpahat dengan jelas di  perutnya.  Nggak seperti perut pria-pria L-Men memang.  Tapi cukup seksi untuk seorang amatir. 

Kuamati ada satu tato bergambar perempuan berambut terurai di punggungnya.

“Itu gambar siapa?” tanyaku sambil mengamati punggungnya dari dekat.


Sabtu, 21 April 2012

Male Prostitutes


Dia lelaki paling atraktif yang pernah kulihat di jalan ini.

Dia terlihat  sedang bersandar di sudut pagar besi taman kota.  Lampu taman kota yang redup tak sanggup menyembunyikan keseksiannya.  Tubuhnya tinggi atletis, kulitnya sawo matang, rambutnya keriting kecil-kecil dengan tatapan mata tajam.  Kedua alisnya yang tebal membuatnya terlihat kian sangar.  Sepertinya dia ini orang-orang dari Timur sana.  Mungkin orang Timor atau Ternate.

Aku segera menghentikan motorku beberapa meter saja darinya.  Aku ingin tahu bagaimana tindak tanduknya selama berada di lokasi ini.  You know, ini tempat lokalisasi pria yang paling terkenal di Surabaya.  Ada bermacam-macam pria penghibur disini.  Tapi yang paling ‘available’ malam ini ya hanya si Timor ini. Kalau ada pria-pria gay yang kesepian dan butuh hiburan, pasti tempat ini yang menjadi jujukan. Dan malam ini aku memang sedang kesepian. 

Gue bukan sedang tak ada kencan.

Masih ada jadwal kencan dengan beberapa teman.  Tapi aku sedang malas menghubungi mereka.  Aku sedang ingin bercinta dengan sang profesional.  Kebanyakan teman-temanku itu memang lelaki yang kurang berpengalaman dalam bercinta.  Aku sedang ingin bercinta dengan panas.  Bukannya harus merendahkan diriku sendiri untuk menenangkan hati teman-teman kencanku itu.  Gue sudah kehabisan energy untuk itu.

I want sex quickly now.  

Sabtu, 14 April 2012

Don't Do It!

Malam itu secara tak sengaja aku bertemu lagi dengan Widi, teman  lamaku.  Wajahnya nampak merah padam, dengan alis yang mengerucut serta tatapan mata yang tak konsisten.  Sesekali ke kanan, sesekali ke kiri, sesekali mengecek BB-nya.  OMG ... dia benar-benar terlihat kacau malam ini.

What’s wrong with him?

Selidik punya selidik, ternyata dia sedang ada masalah dengan ‘istrinya’.  Kalian sudah tahu kan arti ‘Istri dengan tanda kutip’ itu ?  Yup, dia sedang ada masalah dengan lelakinya.  Masalah biasa saja sebenarnya.  Widi menemukan beberapa sms mesra dari lelaki yang ditujukan pada lelakinya.  Nah lo!

Lha wong hanya masalah sms aja kog ya jadi masalah?

“Kan belum terbukti ‘istrimu’ itu selingkuh?  Kau tak melihat mereka tidur bareng, kan?”

“Aku jengkel aja mas. Dulu dia janji nggak bakal hubungi dia lagi”

“Yeee ... kan cuma janji”

Widi nyengir.  Mungkin heran, kenapa aku tidak membelanya.  Aku pikir masalah sms atau telpon atau apalah itu hanya masalah sepele.  Yang penting kan dia masih memperhatikan kekasihnya.  That’s why I never checked my BF mobile phone.

“Dia sudah berubah, mas” katanya lagi.

“Berubah gimana?”